Tampilkan postingan dengan label Hemat Konsumsi Kayu 7 Juta M3 Tiap Tahun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hemat Konsumsi Kayu 7 Juta M3 Tiap Tahun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2008

Tungku Briket Gergajian Kayu

Tungku Briket Gergajian Kayu Mulai Diminati

SOLUSI untuk bahan bakar alternatif di tengah menggilanya harga bahan bakar minyak menjadi sebuah kabar yang menggembirakan, terutama bagi sebagian orang yang berpenghasilan menengah dan kerap menggunakan bahan bakar minyak dalam memenuhi kebutuhannya.

Kegelisahan itu rupanya ditangkap dan direspons oleh Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Banjarnegara, dengan membuat tungku berbahan bakar serbuk gergajian dan serutan kayu. Bahan bakarnya, yang merupakan limbah industri kayu itu, dirasakan cukup ekonomis dan mudah didapatkan.

''Selain membuat tungkunya, kami juga telah membuat briket gergajian kayu sebagai bahan bakarnya, sehingga memudahkan pengguna. Dengan briket, maka akan lebih praktis daripada menata sendiri serbuk ke dalam tungku,'' papar Sekretaris HKTI Kabupaten Banjarnegara, Sutrisno.

Pusat pembuatan tungku dan briket kayu gergajian itu berada di Desa Pucang, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Pengelolanya adalah para anggota HKTI di desa tersebut, yang dikoordininasi oleh Dwi Imam Budiarto. ''Ide itu memang diilhami dari berbagai tungku sejenis yang telah digunakan oleh sejumlah orang. Namun, kami bisa lebih maju dengan membuat serbuk gergajian sebagai bahan bakarnya dalam bentuk briket,'' tutur Budiarto, sembari menunjukkan cara pembuatan tungku dan briketnya.

Sejumlah keuntungan bisa diperoleh, dengan menggunakan tungku berbahan bakar alternatif tersebut. Di antaranya lebih hemat, karena harga briketnya terhitung murah, yakni Rp 500, dan untuk memasak sehari cukup tiga buah briket. Praktis, sehari hanya membutuhkan uang sebesar Rp 1500 saja untuk keperluan masak satu rumah.

''Dibandingkan dengan bahan bakar minyak, jelas hal itu lebih murah. Namun, diakui, memang hal itu belum memasyarakat, karena belum semua orang tahu ada bahan bakar alternatif tersebut,'' jelasnya.

Cocok

Dia mengemukakan, tiga buah briket seharga Rp 1500 itu bisa dibakar selama tiga jam, dengan panas yang konsisten. Proses masak dengan menggunakan tungku tersebut juga lebih cepat. Bagi industri rumah tangga, lanjut dia, yang biasa menggunakan bahan bakar minyak, jelas lebih hemat bila menggunakan tungku briket gergajian kayu tersebut.

Hanya, kata dia, harga tungkunya bagi sebagai masyarakat ekonomi lemah memang masih agak mahal. Untuk ukuran besar (setengah drum minyak), biasanya untuk industri rumah tangga dihargai Rp 150 ribu, sedangkan yang berukuran sedang (tinggi 36 cm, diameter 18 cm) seharga Rp 50 ribu, dan yang berukuran kecil sebesar kaleng biskuit dihargai Rp 15 ribu.

''Meski sudah mulai banyak yang menggunakannya, namun kami masih terkendala masalah permodalan. Dahulu bersama HKTI, kami membutuhkan dana Rp 5 juta untuk uji coba dan proses perwujudan ide itu,'' urainya.

Dalam waktu dekat ini rencananya alat untuk membuat briket gergajian kayu tersebut akan didatangkan lagi.

Alat itu adalah hasil pengembangan dari alat yang sekarang telah ada untuk membuat briket yang lebih bagus kualitasnya.

Hemat Konsumsi Kayu 7 Juta M3 Tiap Tahun

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH), Badan Litbang Kehutanan telah berhasil mengklasifikasikan keawetan 3.132 jenis kayu dari sekitar 4000 jenis kayu di hutan alam di Indonesia. Dari klasifikasi tersebut, diketahui hanya 14,3% yang memiliki keawetan tinggi. Sisanya sebanyak 85,7% mempunyai keawetan rendah. Dengan kata lain, sebagian besar kayu Indonesia tidak tahan terhadap serangan organisme perusak kayu (OPK). Rendahnya keawetan kayu tersebut tak terlepas dari Iklim tropis Indonesia yang hangat dan lembab, kondisi yang sangat ideal untuk perkembangbiakan OPK seperti rayap, jamur, dan binatang laut penggerek kayu. Di antara 2.000 spesies rayap di seluruh dunia, 200 spesies di antaranya hidup di Indonesia. Berdasarkan pengalaman, kayu yang digunakan untuk perumahan biasanya memiliki kelas awet rendah dan hanya mampu bertahan selama 5 tahun. Padahal jika dilakukan pengawetan terlebih dahulu, kayu kelas awet rendah tersebut mampu bertahan hingga 15 tahun.

Jika diasumsikan kebutuhan rumah setiap tahun adalah 2,9 juta unit dengan kebutuhan kayu tiap unit sebanyak 2,97 meter kubik (m3), maka tiap tahun kebutuhan kayu gergajian untuk perumahan dan gedung diperkirakan sebanyak 8,6 juta m3 per tahun. Apabila 85% dari kebutuhan tersebut merupakan kayu yang mempunyai keawetan alami rendah dan hanya bisa bertahan selama 5 tahun, maka dalam kurun waktu 15 tahun pertama total kayu gergajian yang dibutuhkan untuk membangun dan mengganti kayu yang rusak adalah sebanyak 233 juta m3, dengan rincian 129 juta m3 untuk membangun dan 104 juta m3 untuk mengganti yang rusak.

Dari perhitungan tersebut berarti, dengan pengawetan, selama 15 tahun pertama kayu yang digunakan dapat dihemat sebesar 104 juta m3, atau hampir 7 juta m3 tiap tahunnya. Dengan asumsi rendemen atau perbandingan antara output dan input sebesar 50%, penghematan setiap tahun setara dengan 14 juta m3 kayu bulat. Jika diasumsikan potensi kayu 100 m3 per hektar, maka hutan yang tak perlu ditebang setiap tahun adalah seluas 140.000 ha.

Teknologi Pengawetan Kayu Mampu Hemat Konsumsi Kayu 7 Juta M3 Tiap Tahun

Dari aspek ekonomi, berdasar perhitungan yang dilakukan, diketahui bahwa biaya tahunan rata-rata kayu yang tidak diawetkan sebesar Rp.487.398 per m3 dan kayu yang diawetkan sebesar Rp.701.105 per m3. Hal ini berarti biaya pembelian kayu yang diawetkan untuk membangun selama 15 tahun adalah 129 juta m3 x Rp.487.398 per m3 = Rp.62,87 triliun. Sedangkan untuk kayu yang tidak diawetkan adalah 233 juta m3 x Rp.701.105 per m3 = Rp.163,38 triliun. Biaya yang dapat dihemat selama 15 tahun pertama adalah Rp.100,51 triliun atau sekitar Rp.6,7 triliun per tahun.

Teknik pengawetan kayu belum populer di kalangan masyarakat karena dianggap tidak praktis dan memerlukan peralatan dengan operasional yang tidak mudah. Permasalahan lain teknik pengawetan kayu adalah anggapan bahwa biaya pengawetan kayu tersebut mahal, mencemari lingkungan, dan belum adanya standardisasi ukuran kayu yang diterima secara nasional. Kayu yang telah diawetkan harus siap pakai dan tidak boleh diserut lagi.